TIGA NYAMUK, CUKUP!

Prinsip lebih baik makan memikirkan shalat dari pada shalat memikirkan makan, aku akui benar-benar manusiawi, bukan sekedar tameng untuk menghindari kewajiban shalat. Awalnya aku sudah menyusun strategi jitu malam itu, aku berencana makan malam dulu sebelum shalat maghrib dengan alasan nanti ketika ngaji bisa on time dan tenang karena perut sudah diisi penuh. Seperti banyak orang bilang kita hanya bisa membuat rencana Allah yang menentukan. Begitu juga dengan rencana ku, berhubung keburu masuk waktu shalat maghrib, lagian juga anak-anak nggak ada yang mau diajak makan ya…… terpaksa-nya harus kuat-kuat memegang prinsip, bagaimanapun shalat itu jauh lebih penting dari makan malam, tapi tetap saja dalam hati mungkin tepatnya dalam perut tidak bisa menyembunyikan rasa lapar ku malam itu. Aku tersenyum sendiri, menertawakan ke-Idealis-an prinsip hidup ku, segitu kah batas kesabaran ku????

Mungkin karena terus dipikirkan semakin lama rasa lapar itu menjadi-jadi, aku sempat teringat kata-kata temen ku waktu masih SMA, kira-kira seperti ini “jika sebuah masalah di dramatisir malahan akan membuat masalah itu lebih besar lagi dan tentunya akan lebih sulit untuk diselesaikan. Setelah shalat maghrib selesai aku sempatkan dulu membaca wirid sebagai ‘penyeimbang jiwa’ sampai waktu shalat isya nanti, belum kelar imam membaca doa, angan ku menerawang jauh membuat sebuah konsep baru untuk segera chek out dari masjid dan langsung memenuhi hasrat untuk menghilangkan rasa lapar yang aku tahan sejak sebelum shalat maghrib. Asstagfirullah…seru ku dalam hati, sebuah kesalahan sepele yang bisa membuat Allah marah besar, aku memalingkan wajahku dari-Nya hanya untuk menikmatimkelezatan makanan yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan rahmat-Nya yang telah diberikan kepada seluruh alam ini.

Setelah selesai melakukan shalat sunah dua rakaat, aku bergegas menganbil kitab kuning dan uang secukupnya dan cepat-cepat aku menuju ke Ndalem (rumah pak Kyai) yang masih sepi karena belum ada santir yang datang untuk mengaji. Kebiasaan seperti ini sudah sangat sering sekali aku lakukan jika mempunyai rencana untuk makan lebih dahulu. Aku taruh kitab ku di meja kecil berwarna coklat di depan Ndalem dan langsung menuju Cat Rice Café (CRC) langganan para santri, apalagi yang dicari kalau bukan harga yang agak miring atau jaminan dibolehkan-nya ngutang (berhutang) tapi yang terakhir ini pantang bagiku untuk melakukan-nya, lebih baik nahan laper dari pada nahan malu untuk ngutang, nggak bisa mbayangin raut muka aku ketika harus bilang ‘ngutang dulu mas, maaf saja.

Kalau dalam situasi yang seperti ini biasanya jurus andalanku keluar tanpa rasa sungkan yaitu jurus kilat khusus perangko empat dijamin langsung selesai dan cepat sampai ke ndalem lagi, kadang telat kadang juga hampir selesai. Tapi kali ini aku bisa dateng lebih awal dari pada biasanya dan para santri sudah memenuhi ruang tamu. Aku langsung mengambil inisiatif untuk duduk di dekat dinding biar lebih santai dan juga bisa untuk bersandar.

* * *

Seketika itu pandangan ku langsung tertuju ke seorang santri disamping aku persis sebelah kiri sekitar satu meter-an, santri baru pikir ku, karena baru kali ini aku melihatnya walaupun wajahnya tidak terlalu asing bagiku. Bukan paras nya atau gaya rambuy-nya yang sama sekali ngikuti model itu yang perhatian, tapi seekor nyamuk yang ada di tangannya, aku tertegun melihatnya, ketika semua orang ‘memburunya’ untuk dipres dengan kedua telapak tangannya dia malah membiarkan-nya untuk menyedot darahnya sampai perut nyamuk itu kembung terisi darah, dan anehnya dia masih saja membiarkan-nya. Ooh…. Inikah kesabaran dari hambu-Mu yang akan Engkau pamerkan kepada penghuni-penghuni langit, beribu-ribu malaikat yang sempat meragukan keputusan-Mu menciptakan manusia dan memberikan fasilitas bumi dan langit seisinya, sepenuhnya untuk memanjakan manusia? Ataukah ini pancaran cahaya-cahaya-Mu yang ada disetiap qalbu hamba-Mu??

Setelah puas merasakan ‘manis’ darahnya, nyamuk itu menghilang dibawah kursi-kursi tua. Dan tak lama setelah itu datang lagi seekor nyamuk yang ingin ikut merasakan kelezatan darah santri baru ini. Sama seperti sebelumnya, dia membiarkan nyamuk itu mengambil darahnya dengan leluasa tanpa ada gangguan apapun, tapi kali ini ada yang berbeda dari yang pertama. Mata santri itu berkaca-kaca seakan ada beban yang sangat berat dan segera ingin menumpahkan-nya dengan menangis sekeras-kerasnya, tapi kenapa?? Seandainya dikarenakan gigitan nyamuk itu, kenapa tidak usir saja nyamuk itu sampai kalang kabut??? Malahan ia membiarkan-nya dan sengaja tidak menggerak-gerakan tangannya agar nyamuk itu merasa nyaman dan bisa menikmati darahnya dengan sepuas-puas-nya. Bagaimana dengan santri tadi?? Aku masih bingung dengan tingkah lakunya malam ini, sungguh aneh! Nyamuk itu terbang, jika aku bisa mendengar apa yang dikatakan nyamuk itu, mungkin saja nyamuk itu akan berkata ‘ aku kan memintakan ampunan untukmu kepada Tuhanku, Tuhan kita, karena kau telah memberikan darahmu dengan ikhlas kepadaku. Setiap getar sayapku akan aku sanjungkan puja puji untuk Tuhanku dan biarlah pahalanya kuserahkan untukmu, dan yang terakhir akan kumintakan kepada Tuhanku setiap tetes darah yang aku ambil dari tubuhmu untuk dijadikan saksi atas semua perbuatan baikmu nanti di hari pembalasan sepertimana Tuhanku menjanjikan pahala yang sangat besar dari setiap tetes darah yang tumpah dibukit Badar dan Uhud.

Sekarang aku bener-bener bingung, apa maksud santri itu coba..??? kenapa nggak usir saja nyamuk itu, selesai.(titik) aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepadanya, apa maksud ia melakukan semuanya itu?? Blum sempat keluar kata-kata dari mulutku, datang lagi seekor nyamuk dan hinggap lagi di tangannya. Dia masih saja membiarkannya menikmati darah dari nadi-nadinya. Aneh, bener-bener aneh santri ini, umpatku agak lirih sambil terus memperhatikannya. Aku hampir dibuatnya kagum tiga kali berturut-turut padanya, tapi tidak lama setelah aku bergumam seperti itu, aku dikagetkan suara tepukan tangan yang sangat keras Plaaakk!! Dan setelah aku cari dari mana suara itu berasal kau yakin bahwa suara itu dari arah santri itu, yang dari tadi aku perhatikan, ternyata kali ini dia mengusir nyamuk itu dengan agak kesal tetapi nyamuk itu masih bisa lolos dari sergapan mautnya. Aku hanya bisa diam, sambil terus memperhatikannya mulai dari ujung jari kakinya sampai wajahnya, sesampai di wajahnya aku mendapati matanya yang sembab mengeluarkan air matanya sambil menggaruk-garuk bekas gigitan nyamuk itu. Setelah lama terdiam, entah ari mana rasa geli menggelitik itu muncul, secara refleks tanpa aku sadari aku tertawa sedikit aku tahan sekuat mungkin, takut menganggu kegiatan mengaji temen-temen santri yang lain sampai perut aku mules banget. Ternyata punya rasa gatal juga tuh orang, pikirku. Tapi aku cepet-cepet ngilangin semua pikiran itu sambil meredakan rasa geli itu. Aku mencoba mencari pelajaran apa yang bisa aku peroleh. Ya, aku dapet! Aku tersenyum-senyum sendiri, ternyata peristiwa tadi sedikit mendukung keputusan ku bahwa kesabaran memang ada batasnya dan batas itu yang akan membedakan derajat seseorang dimata orang lain dan juga di mata Allah, batasan sabar tidak bisa dihitung secara matematis, tiga kali bukan ukuran mutlak untuk dijadikan batas kesabaran seseorang, tetapi batasan itu terdapat dalam hati karena Islam, Iman, dan Ihsan. KITA BEDA DALAM HATI

Berapa nyamuk kah Anda bisa bertahan???

~ by khanana on March 3, 2008.

One Response to “TIGA NYAMUK, CUKUP!”

  1. duhhh… aku kok jadi pingin ketawa yak??
    kamu tuh laper ja dipamerin. tadinya tak kirain kamu laper, trus karena ga sempat ke CRC (wew.. istilahnya!!!), kamu makan 3 nyamuk :) ) Cukup (mengenyangkan). haha …
    YUp!Islam, Iman, Ikhsan …. IKhlas ahhh!!!

Leave a Reply